Pengusaha

Prabowo Dampingi Pengusaha RI-AS Teken MoU Investasi Triliunan Rupiah

Prabowo Dampingi Pengusaha RI-AS Teken MoU Investasi Triliunan Rupiah
Prabowo Dampingi Pengusaha RI-AS Teken MoU Investasi Triliunan Rupiah

JAKARTA -Presiden Prabowo Subianto didampingi sejumlah tokoh bisnis papan atas dari Indonesia maupun Amerika Serikat untuk memperkuat kemitraan strategis antarnegara.

Berdasarkan keterangan resmi yang diterima Bisnis, forum ini dihadiri pemimpin korporasi dan asosiasi bisnis penting, termasuk Ketua KADIN Indonesia Anindya Novyan Bakrie, Ketua APINDO Shinta Widjaja Kamdani, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri, serta Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas. 

Kehadiran mereka menunjukkan keseriusan Indonesia mengintegrasikan politik ekonomi dengan strategi investasi nasional.

Selain itu, forum juga dihadiri tokoh penting dari pihak Amerika Serikat, seperti CEO US-Asean Business Council Brian McFeeters, Presiden USINDO David Merrill, dan Senior Vice President U.S. Chamber of Commerce John Murphy. Kehadiran pengusaha global ini menegaskan posisi Indonesia sebagai mitra investasi utama di kawasan Asia Tenggara.

Penandatanganan 11 MoU Bernilai Triliunan Rupiah

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo Subianto menyaksikan penandatanganan sedikitnya 11 nota kesepahaman (MoU) antara pelaku usaha Indonesia dan Amerika Serikat dengan nilai total mencapai US$38,4 miliar atau sekitar Rp650,07 triliun. 

Kesepakatan ini mencakup sektor strategis seperti pangan, energi, industri manufaktur, furnitur, hingga teknologi semikonduktor.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh KADIN Indonesia bekerja sama dengan US–ASEAN Business Council dan USINDO, menghadirkan pejabat tinggi serta pelaku usaha kedua negara untuk membahas peluang investasi dan kerja sama perdagangan bilateral.

Kehadiran pengusaha dan pimpinan korporasi global menegaskan bahwa diplomasi ekonomi Indonesia kini lebih terintegrasi, memperkuat arus investasi, memfasilitasi transfer teknologi, dan menegaskan posisi Indonesia sebagai mitra strategis Amerika Serikat di Asia Tenggara.

Forum Diskusi Bisnis dan Strategi Kemitraan

Kegiatan ini diawali dengan exclusive business roundtable, membahas penguatan kolaborasi ekonomi kedua negara melalui sinergi pemerintah dan sektor swasta. Fokus diskusi antara lain relaksasi kebijakan, peluang investasi, dan strategi meningkatkan arus perdagangan bilateral.

Presiden Prabowo menekankan pentingnya menciptakan iklim investasi yang stabil dan kondusif. “Dengan kepastian regulasi, penegakan hukum, dan tata kelola yang baik, Indonesia siap menjadi basis produksi sekaligus tujuan investasi strategis bagi perusahaan global,” katanya.

Nilai investasi yang signifikan dan cakupan sektor yang luas dari 11 MoU diharapkan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi sekaligus memperdalam hubungan ekonomi Indonesia–Amerika Serikat di masa depan. Forum ini menunjukkan bahwa investasi tidak lagi sebatas transaksi ekonomi, tetapi bagian dari diplomasi strategis.

Daftar MoU Strategis dan Bidang Investasi

Beberapa MoU penting yang diteken antara pelaku usaha Indonesia dan Amerika Serikat antara lain:

Mineral kritis — MoU Critical Mineral Freeport antara McMoran dengan Menteri Investasi/CEO Danantara Rosan Roeslani.

Pemulihan ladang minyak (oilfield recovery) — MoU antara Pertamina dan Halliburton.

Komoditas jagung — Kerja sama antara Cargill AS dan PT Sorini Agro Asia Corporindo (Cargill Indonesia).

Kapas (cotton) — MoU Busana Apparel Group dengan National Cotton Council; MoU antara Daehan Global dan US National Cotton Council.

Pakaian bekas (shredded worn clothing), tekstil daur ulang — MoU Pan Brothers dengan Ravel.

Furnitur — MoU ASMINDO dengan Bingaman & Son Lumber; MoU HIMKI dengan American Hardwood Export Council.

Semikonduktor — MoU antara Galang Bumi Industri dan Essence; proyek hilirisasi Batam oleh PSN Wiraraja/Galang Bumi Industri dengan Tynergy Technology Group.

Transnational Free Trade Zone Friendship Pact — kerja sama kawasan perdagangan bebas antara Galang Bumi Industri dan Solanna Group LLC.

Kesepakatan tersebut memperlihatkan fokus Indonesia untuk menarik investasi strategis, termasuk di sektor teknologi, energi, dan industri manufaktur.

Sinergi Pemerintah dan Sektor Swasta Perkuat Posisi Indonesia

Kehadiran pengusaha global mendampingi Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa sukses diplomasi ekonomi tidak bisa dilepaskan dari kolaborasi pemerintah dan sektor swasta. 

Sinergi ini diharapkan mempercepat aliran investasi, memperluas transfer teknologi, dan memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis di kawasan Asia Tenggara.

Forum ini juga menjadi ajang menunjukkan komitmen Indonesia dalam memperkuat hubungan ekonomi bilateral, sekaligus membuka peluang investasi jangka panjang bagi perusahaan multinasional. Dengan total nilai investasi mencapai Rp650 triliun, langkah ini diyakini akan menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi nasional.

Selain aspek ekonomi, kehadiran pengusaha papan atas juga mendukung strategi diplomasi Indonesia dalam meningkatkan posisi tawar dan integrasi ekonomi regional. Langkah-langkah seperti ini diharapkan dapat mendorong investor global untuk menilai Indonesia bukan sekadar pasar, tetapi juga basis produksi dan inovasi industri.

Presiden Prabowo menegaskan, investasi asing di Indonesia tidak hanya terkait modal, tetapi juga transfer teknologi, peningkatan kapasitas industri, dan hilirisasi sumber daya alam. 

Dengan pendekatan ini, pemerintah berharap Indonesia dapat mengoptimalkan sumber daya domestik sekaligus meningkatkan daya saing global.

Hadirnya forum dengan partisipasi pemimpin KADIN, APINDO, Pertamina, Freeport, dan pengusaha internasional menunjukkan bahwa Indonesia serius menciptakan iklim investasi yang stabil, ramah, dan menguntungkan bagi semua pihak. 

Strategi ini diyakini akan membawa manfaat ekonomi jangka panjang sekaligus memperkuat hubungan bilateral dengan Amerika Serikat secara berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index